Mike Dhani

23 March, 2005

Mengapa Sunisme dan Syi’isme Masih Juga Diberhalakan?

Filed under: Agama

Republika – Resonansi
Selasa, 22 Maret 2005

Mengapa Sunisme dan Syi’isme Masih Juga Diberhalakan?
Oleh : Ahmad Syafii Maarif

Sepanjang pengetahuan saya, pada masa Nabi umat Islam itu tunggal, tidak berkeping-keping. Munculnya kelompok Suni, Syi’i, dan Khawarij baru seperempat abad setelah wafatnya Nabi. Kelahiran mereka adalah akibat tahkim (perundingan) di Dumat al-Jandal (657 M.) antara kelompok Ali dan kelompok Mu’awiyah untuk mengakhiri Perang Shiffin yang berdarah-darah dan membuahkan perpecahan itu.

Ketua perunding dari pihak Ali yang dipimpin Abu Musa al-Asy’ari dikalahkan secara telak oleh kepiawaian juru runding ‘Amr ibn al- ‘Ash sebagai pendukung setia Mu’awiyah. Alquran dan Nabi yang kemudian dibawa-bawa ke dalam sengketa politik ini jelas merupakan penghinaan dan sekaligus pengkhianatan, sadar atau tidak sadar, terhadap kedua sumber ajaran pokok Islam itu. Perbelahan yang kita warisi sampai hari ini berasal dari pertikaian politik di antara puak-puak Arab di atas. Pertanyaannya adalah: mengapa umat Islam yang datang kemudian mau pula turut berkubang dalam sengketa yang dipicu oleh persoalan kekuasaan itu? Di mana kita mendudukkan Alquran sebagai alfurqan (kriterium pembeda antara benar dan salah)?

Sebagian pendukung Ali yang menentang perundingan itu marah besar kepada Ali yang dinilai terlalu lemah menghadapi lawan, padahal kemenangan sudah hampir di tangan. Sempalan dari Ali ini dikenal dalam sejarah dengan sebutan khawarij (yang memisahkan diri). Kelompok inilah yang kemudian merencanakan makar terhadap Mu’awiyah, Ali, dan Ibn al-’Ash yang mereka percayai sebagai pemicu perpecahan umat. Hanya Ali yang berhasil dibunuh oleh Ibn Muljam pada 661 M di Kufah, sedangkan dua yang lain selamat. Dengan terbunuhnya Ali, maka lapanglah jalan bagi Mu’awiyah untuk menjadi penguasa pasca-Al- Khulafa al-Rasyidun, sesuatu yang sudah lama diincarnya.

Perpecahan yang terjadi akibat Perang Shiffin dan Perundingan Dumatul Jandal ternyata berdampak sangat jauh dan dalam bagi bangunan persaudaraan umat yang kemudian terbelah menjadi tiga itu: Suni (golongan terbesar) yang umumnya berpihak kepada pemenang, Syi’i, pembela Ali, dan Khawarij, yang anti terhadap keduanya. Perang saudara ini adalah yang kedua sepeninggal Nabi. Yang pertama adalah Perang Jamal antara Aisyah dan Ali, yang dimenangkan pihak Ali. Anda bisa bayangkan bahwa yang berperang adalah Aisyah, istri Nabi; dan Ali, sepupu dan menantu Nabi, sekalipun istri Ali, Fathimah, putri Nabi bersama Khadijah, sebab Aisyah tidak dikaruniai keturunan. Siapa yang meragukan kualitas iman mereka ini semua. Tak seorang pun, bukan?

Tetapi, kita harus senantiasa ingat bahwa mereka adalah manusia biasa yang tidak kebal dari kesalahan. Dengan kata lain, politik ternyata dapat menyeret manusia ke jurang perpecahan dan peperangan, tidak terkecuali melibatkan para sahabat Nabi yang mulia ini. Ini fakta keras sejarah yang tak seorang pun dapat menutup dan membantahnya. Tinggal lagi bagaimana kita menyikapi kejadian- kejadian tragis itu dengan penuh kearifan, sesuatu yang tidak selalu mudah, sekalipun bukan mustahil, dengan syarat Alquran dijadikan pedoman dan acuan utama dan pertama dalam merumuskan setiap langkah duniawi kita. Jika tidak demikian, Alquran menjadi tidak relevan untuk memberikan solusi terhadap persoalan-persoalan kita yang selalu timbul dan berkembang sepanjang zaman.

Tentu timbul pertanyaan, mengapa luka-luka lama itu diungkit-ungkit juga, sebab itu hanyalah akan menambah beban psikologi umat yang sedang kalah ini? Jawabannya sederhana saja: Bagaimana mau menutupinya karena luka itu masih tetap saja memancarkan darah segar dari tubuh umat ini di berbagai belahan dunia, di Irak, Afghanistan, Palestina, dan di mana lagi, tragedi tak kunjung usai jua. Inilah realitas kita yang tidak perlu diingkari, tetapi harus dihadapi dengan jiwa besar dan sabar, sambil diupayakan pemecahannya sejujur dan secerdas mungkin, kecuali jika kita memang mau membuang Alquran ke dalam limbo sejarah dan digantikan oleh ‘’Islam'’ dalam jubah sunisme, syi’isme, dan isme apa lagi, seperti yang berlaku berabad- abad. Bukankah semua ini adalah berhala politik yang tidak layak diteruskan, jika memang kita mengaku setia kepada Alquran?

Semangat di atas pernah saya lontarkan di depan forum ulama dan sarjana Suni di Kuala Lumpur dan di depan ulama dan sarjana Syi’ah di Tehran beberapa tahun yang lalu. Saya ingin mereka bersedia mendekati Alquran dengan melepaskan jubah-jubah politik dan teologi sebagai ekor Perang Shiffin yang membawa malapetaka panjang itu. Selama jubah-jubah itu tetap saja disandang, saya amat khawatir keluhan Rasul kepada Allah sedang dialamatkan kepada dunia Islam sekarang ini.

“Dan mengeluh [aslinya berkata] Rasul: ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah menyebabkan Alquran ini ditelantarkan.” (lihat Alquran Suat Al-Furqan: 30).

1 Comment »

The URI to TrackBack this entry is: http://idrus.blogsome.com/2005/03/23/mengapa-sunisme-dan-syiisme-masih-juga-diberhalakan/trackback/

  1. Andai sja semudah Anda bicara, Pak Syai’i. Kenyataannya, dengan Al-Quran yang sama sekalipun, penafsiran kita tetap berlainan. Apalagi terhadap suatu peristiwa, bahkan yang Anda anggap sudah tak bermakna lagi, sajarah yang, Anda pandang, murni politik (atau Anda sedang ber’pulitik’//nipu anu leutik = menipu orang kecil?). Apatah lagi kalau kita membicarakan kitab hadis. Saya yakin Anda telah mengupas semua Kutub as-sittah. Komentar kita terhadap sebbuah hadis saja akan sangat beragam. So what ? Jalani saja kalau tidak bisa menyelesaikannya. Say no word ! Bicaralah yang baik (dan benar benar benar) atau lebih baik diam.
    Terima kasih atas tulisannya. Dengan demikian kita lebih yakin bahwa teramat banyak orang yang tidak mengerti makna sejarah, bahkan ulama pula. Kita lebih mengira bahwa sejarah itu sesuatu yang tidak berkaitan dengan kita. salah besar.
    Maaf atas bahasa yang kurang sopan. Saya memang tidak mau mau ‘nyantri’.

    Comment by Yos — 21 September, 2006 @ 2:34 am

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>


Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Gary Rogers