Mike Dhani

31 December, 2004

Menata Hati disaat Senang

Filed under: Agama

Musholla itu penuh sesak. Aroma tak sedap tercium dari pinggir ruangan. Karpetnya compang-camping dan kumal, entah kapan terakhir dibersihkan. Kipas angin yang usang dan sekarat, ditambah sempitnya ruangan tak berventilasi itu, membuat para musafir tidak nyaman di dalamnya. Kekhusu’an jamaah shalat semakin terganggu oleh bisingnya suara mobil dan motor. Seperti layaknya tempat sholat di mall atau plaza lainnya, musholla itu terletak di basement, berdempetan dengan lapangan parkir. Kepulan asap dan partikulat dari knalpot kendaraan yang keluar masuk parkir menjelma menjadi pengharum ruangan tersebut, menambah lengkap ‘paket hemat’ bagi ritual ibadah disana.

Begitulah nuansa ala kadarnya yang disajikan pemilik mall bagi pengunjung di musholla sebuah pusat perbelanjaan mewah di Jakata.. Tidak ada yang mempermasalahkan, walaupun semestinya ruangan tersebut tidak layak pakai. Biarlah sempit biarlah bising, lengkap dengan nuansa keprihatinan di dalamnya. Sepertinya tak ada lagi tempat yang pantas untuk beribadah selain ruangan tak terawat itu.

Sementara itu, tepat satu lantai diatasnya, ribuan pengunjung menghabiskan waktu - dengan berbelanja atau sekedar cuci mata - disamping etalase mewah dengan tata letak yang nyaris sempurna. Mungkin itulah nasib musholla di pusat-pusat perekonomian kita. Musholla hanya milik kalangan pekerja berseragam; satpam, pelayan toko atau petugas kebersihan. Sementara di gedung yang sama berseliweran pria berjas-berdasi dan wanita berdandan rapi. Entah dimana mereka sholat -dengan asumsi mereka masih mendirikannya-, yang jelas sulit mencari mereka di musholla terlantar tadi.

*****

Tapi apa betul, kenyamanan yang menjadi alasan. Percaya atau tidak, masjid-masjid besar yang sangat megah dan nyaman pun jamaahnya didominasi kalangan bawah. Tukang asongan, petugas kebersihan, dan sebagian mahasiswa kos-kos-an yang harap-harap cemas menunggu wesel kiriman. Sementara kaum berada akan datang ketempat beribadah di saat ada hajatan sosal, kenduri megah atau shalat tahunan (hari raya).

Mungkin menarik untuk men-survei hubungan antara tingkat kesejahteraan dengan dengan keshalehan. Membandingkan tingkat ketaatan dengan kualitas kehidupan. Kemakmuran kehidupan dunia, seperti menyeret anak manusia menjauh dari masjid dan musholla. Akibatnya, seperti di mall tadi, musholla hanya milik kelas bawah.

Nasehat agar tetap tunduk-patuh disaat masa senang sudah di kumandangkan Rasulullah, jauh sebelum mall dan plaza dibangun,

“Ingatlah Allah di saat engkau dalam kesenangan, niscaya Dia akan mengenalimu dalam kesusahan” (HR Ahmad).
Menjadi taat, saat musibah datang menampar wajah sombong kita, tentu tidak terlalu sulit. Ketika kesulitan menghampiri, tiba-tiba sensitivitas spiritual kita sebagai insan membaik. Saat rasa sakit memaku kita ditempat tidur, akses untuk bermaksiat menjadi sangat terbatas. Kala kegagalan membuat kita tersungkur, ughhh…untuk mengangkat wajah saja sulit. Nyaris tak ada fasilitas untuk unjuk kebolehan dan tak ada yang bisa dipamerkan. Atau saat hadir hajat/keinginan penting menguasai pikiran, yang memaksa kita untuk bersujud, hati akan dipenuhi kuntum-kuntum munajat dan berharap anugerah tercurah dari langit. Ingin berbuat maksiat? Uppss…Tahan dulu, setidaknya sampai doa-doa tersebut dikabulkan.

Tapi, ketika kesulitan itu ditarik, saat munajat itu dikabulkan, manusia kembali lupa dan cenderung lalai. Al Qur’an menyindir kita yang beribadah bak berdagang,

“Dan apabila manusia ditimpa bahaya, dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk, atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat) seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk bahaya yang telah menimpanya”[Yunus (10): 12].
Beberapa Ayat Al Qur’an senada mengingatkan hal ini: [An Nahl (16): 53-54], [Ar Ruum (30): 33], dan [Az Zumar (39): 8 & 49].
“Dan apa saja ni’mat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan. Kemudian apabila Dia telah menghilangkan kemudharatan itu dari pada kamu, tiba-tiba sebahagian dari pada kamu mempersekutukan Tuhannya dengan (yang lain)” [An Nahl (16): 53-54].

“Dan apabila manusia itu ditimpa kemudharatan, dia memohon kepada Tuhannya dengan kembali kepada-Nya; kemudian apabila Tuhan memberikan ni’mat-Nya kepadanya lupalah dia akan kemudharatan yang pernah dia berdo’a untuk sebelum itu, dan dia meng-ada-adakan sekutu-sekutu bagi Allah untuk menyesatkan (manusia) dari jalan-Nya” [Ar Ruum (30): 33].

Padahal,
“siapakah yang mengabulkan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilang­kan kesu­sah­an?” [An Naml (27): 62].
Dialah Allah, Rabb Yang menguasai segenap makhluk-Nya. Namun, lagi-lagi ego membisik angkuh,
“Sesungguhnya aku diberi ni’mat itu hanyalah karena kepintaranku” [Az Zumar (39): 49].

*****

Fluktuasi taat-maksiat sangat pas tergambar di lautan. Manusia sebagai makhluk yang cerdas, sangat peduli dengan keselamatannya. Laut adalah tempat dimana manusia mempertaruhkan keselamatannya. Ketika daratan menghilang dari pandangan, rasa tidak aman timbul. Ketika gelombangnya mulai mengaduk-aduk isi perut dan rasa mual -mabuk laut- menyekat kerongkongan, taat spontan muncul. Apabila diayun ombak yang besar seperti gunung, tak ada pilihan selain memurnikan ketaatan [Luqman (32): 31]. Atau pada saat Tsunami melumat daratan yang dilewatinya, ketertundukan kepada Sang Penguasa semesta hadir cuma-cuma. Dan permohonan pun melantun tulus:

“Sesungguhnya jika Engkau menyelamatkan kami dari bahaya ini, pastilah kami akan termasuk orang-orang yang bersyukur” [Yunus (10) : 22].
Namun, saat sampan akhirnya merapat ke daratan, saat bahaya itu ditarik; serta-merta janji tinggal janji, kesombongan kembali bertengger di dalam hati;
“Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilanglah siapa yang kamu seru kecuali Dia, Maka tatkala Dia menyelamatkan kamu ke daratan, kamu berpaling. Dan manusia adalah selalu tidak berterima kasih” [Al Isra (17): 67].
Fenomena ini berulangkali diingatkan dalam Al Qur’an; termasuk di Al An’am (6): 63-64 dan [Al Ankabuut (29): 65)]

Semoga setiap ni’mat, kesenangan dan kemudahan duniawi yang kita peroleh memacu diri untuk mendukung syiar dien-Nya. Agar rintihan kita disaat sulit dikenali malaikat-Nya, sebagaimana untaian dzikir dan syukur kita disaat senang.

Katakanlah: “Siapakah yang dapat menyelamatkan kamu dari bencana di darat dan di laut, yang kamu berdoa kepada-Nya dengan berendah diri dan dengan suara yang lembut (dengan mengatakan): “Sesungguhnya jika Dia menyelamatkan kami dari (bencana) ini, tentu kami menjadi orang-orang yang bersyukur””
Katakanlah: “Allah menyelamatkan kamu dari bencana itu dan dari segala macam kesusahan, kemudian kamu kembali mempersekutukan-Nya.” [Al An’am (6): 63-64]

Tunduklah, Meski di Saat Senang
Mu. Abdur Razzaq, jelang pergantian tahun 04-05

http://muslimdelft.nl/kolom/atas_nama_cinta/menata_hati_di_saat_senang.php

Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://idrus.blogsome.com/2004/12/31/menata-hati-disaat-senang/trackback/

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>


Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Gary Rogers